Selamat datang di Komunitas Blog Hama dan Penyakit Tumbuhan

Kamis, 09 Februari 2012

Pengendalian CVPD pada Jeruk


Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD)
dan Strategi Pengendaliannya di Sumatera Selatan

Syahri
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan
Jl. Kol. H. Barlian No. 83 Km. 6 Palembang
Email: bptp-sumsel@litbang.deptan.go.id

RINGKASAN
Penyakit CVPD merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman jeruk di Sumatera Selatan.  Penyakit ini disebabkan oleh Liberobacter asiaticum yang dapat ditularkan oleh serangga vektor D. citri. Tanaman yang sakit menunjukkan berupa penghambatan pertumbuhan (kerdil), daun gugur dan pembungaan salah waktu, mati ranting, pembentukan akar serabut atau akar baru terhambat serta gejala khas pada daun. Sedangkan, pada buah menyebabkan buah yang terinfeksi menjadi kecil, tidak simetris, dan terasa agak pahit disebabkan karena kadar asam naik dan kadar gula menurun.  Selain itu, buah terkadang cepat gugur dan berwarna tidak sempurna, masih tampak warna hijaunya.  Demikian pentingnya penyakit ini sehingga berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 38/KPTS/HK.060/I/2006 Liberobacter asiaticum ditetapkan sebagai salah satu Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) Golongan A2 yang penyebarannya meliputi daerah Papua, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Sumatera.  Untuk itulah diperlukan tindakan pengendalian seperti melalui karantina, pengendalian serangga vektor D. citri, penggunaan varietas tahan, perlakuan perendaman bibit jeruk dengan senyawa kimiawi, teknologi infus batang pada tanaman dewasa, eradikasi selektif tanaman yang terserang dan penggunaan tanaman tapak dara.

PENDAHULUAN
          Jeruk (Citrus sp.) merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia. Jeruk termasuk jenis buah-buahan yang digemari oleh masyarakat dan memiliki kapasitas dalam menunjang perbaikan gizi masyarakat karena kandungan vitamin C-nya cukup tinggi dan dikonsumsi baik dalam bentuk segar (sebagai buah meja) maupun olahan (jus dan sirup).  Sumatera Selatan merupakan salah satu sentra penanaman jeruk di Indonesia yang ditetapkan sebagai salah satu daerah pengembangan kawasan hortikultura.
Kendala yang dihadapi adalah masih tingginya serangan hama maupun penyakit pada jeruk.  CVPD yang disebabkan Liberobacter asiaticum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman jeruk.  Di Indonesia, penyakit CVPD atau dikenal juga dengan nama Huanglongbin Disease telah lama dikenal dan berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 38/KPTS/HK.060/I/2006 Liberobacter asiaticum ditetapkan sebagai salah satu Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) Golongan A2 yang penyebarannya meliputi daerah Papua, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Sumatera.
Pada tahun 1982-1985 daerah sentra produksi jeruk tersebut mengalami kehancuran karena serangan penyakit CVPD yang dapat ditularkan melalui bibit dan serangga vektor Diaphorina citri. Tahun 1983, penyakit CVPD menyebabkan kerugian senilai Rp 26,4 milyar. Sementara itu Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan (1984) melaporkan bahwa CVPD telah memusnahkan jutaan pohon jeruk di Indonesia. Kehilangan jeruk oleh penyakit tersebut ditaksir 50.000 ton buah per tahun.
Penyebaran CVPD secara geografis dari satu daerah ke daerah lain, serta masuknya penyakit ke dalam kebun disebabkan oleh bahan tanaman yang terinfeksi, terutama berasal dari penggunaan tunas mata temple yang terinfeksi. Sedangkan penyebaran ketanaman lain dalam satu kebun biasanya melalui vektor Diaphorina citri atau penggunaan tunas mata tempepl yang terinfeksi. Penularan melalui kuncup biasanya relative rendah (5-10%), karena bakteri penyebab penyakit tidak tersebar dalam jaringan tanaman (Nurhadi dan Whittle, 1988).  Penularan CVPD selain melalui vektor, mata tempel, bibit tanaman sakit, juga dapat melalui alat yang digunakan memotong dahan ranting tanaman jeruk yang sakit karena CVPD. 
          Permasalahan penyakit CVPD ini membutuhkan suatu perhatian agar tanaman jeruk yang dibudidayakan menghasilkan produksi optimal.  Upaya pemerintah dalam membangun agribisnis/agroindustri jeruk yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi menuntut dukungan industri benih yang tangguh. Industri benih jeruk yang tangguh memerlukan adanya jaminan mutu benih, teknologi produksi dan sistem distribusi yang efisien, yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.  Selain itu, upaya pembangunan agroindustri jeruk juga harus didukung dengan adanya pengetahuan petani khususnya dalam membudidayakan tanaman secara sehat.  Demikian pentingnya pengetahuan tentang penyakit ini, sehingga melalui tulisan ini diinformasikan penyebab penularan penyakit CVPD dan bagaimana tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikannya.

Karakteristik Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration)
Gejala serangan penyakit CVPD pada jeruk bergantung pada varietas jeruk yang ditanam.  Gejala dapat berupa penghambatan pertumbuhan (kerdil), daun gugur dan pembungaan salah waktu, mati rantung, pembentukan akar serabut atau akar baru terhambat serta gejala khas pada daun. Gejala daun: daun sebagian/seluruh tajuk menguning.  Daun tampak kaku, tegak terkadang disertai klorotik. Tulang daun tua berwarna lebih gelap (greening).  Gejala penyakit ini mirip kekurangan unsur seng. Gejala dalam: berupa floem daun sakit lebih tebal dibandingkan daun sehat.  Pembuluh tapis floem mengempis (penebalan dinding sel).  Gejala pada buah yaitu buah menjadi kecil, tidak simetris, dan terasa agak pahit disebabkan karena kadar asam naik dan kadar gula menurun.  Selain itu, buah terkadang cepat gugur dan berwarna tidak sempurna, masih tampak warna hijaunya (Semangun, 2004).
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Liberobacter asiaticum (Asia) dan Liberobacter africanum (Afrika) yang dulu dikenal sebagai MLO. Penyakit dapat menular melalui okulasi, penyambungan dan alat pertanian. Bakteri menyebar melalui jaringan floem, dan sedikit/tidak terdapat pada mata tunas.  Bakteri ini ditularkan oleh serangga Diaphorina citri.  Bakteri Liberobacter hidup dalam floem tanaman jeruk dan menimbulkan gejala yang khas, bakteri tersebut belum bisa dibiakkan pada media buatan. Penularan penyakit CVPD di alam bergantung pada kepadatan populasi D. citri sebagai serangga vektor dan keberadaan sumber inokulum (Chen, 1998 dalam Wijaya, 2007). Nurhadi (1993) melaporkan bahwa patogen dapat ditularkan oleh serangga vektor dari satu tanaman ke tanaman lain setelah melalui 1) periode makan akuisisi yaitu waktu yang diperlukan vektor untuk makan pada tanaman sakit sampai mendapatkan patogen, 2) periode makan inokulasi yaitu waktu yang diperlukan vektor untuk makan pada tanaman sehat sampai dapat menularkan patogen dan 3) periode retensi yaitu selang waktu vektor masih dapat menularkan patogen. Selanjutnya ditambahkan ketepatan vektor menusukkan stiletnya pada bagian tanaman sakit dan proporsi vektor yang infektif mempengaruhi laju penularan penyakit CVPD.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penularan Penyakit CVPD
Keberadaan Serangga Vektor.  Populasi serangga vektor D. ctri akan sangat berpengaruh terhadap penularan maupun penyebaran penyakit CVPD.  Meskipun serangga tersebut tidak terbang jauh, karena panjangnya umur tanaman sakit, kesempatan menularnya penyakit oleh D. citri cukup besar. Penularan terutama terjadi pada waktu tanaman membentuk banyak kuncup.
Teknis Budidaya yang Tidak Tepat.  Penyakit CVPD tidak dapat menular secara mekanis dengan gosokan, tetapi akhir-akhir ini terdapat tanda-tanda bahwa penyakit dapat menular dengan perantaraan alat-alat pertanian seperti gunting pangkas, pisau okulasi dan gergaji. Penyakit juga dapat menular dengan penempelan mata tempel/penyambungan dari tanaman jeruk yang telah terinfeksi. Di Indonesia penyakit memencar jarak jauh terutama karena terbawa terbawa oleh bibit. Bibit-bibit tersebut mengandung penyakit karena mata yang dipakai untuk menempel (okulasi) diambil dari tanaman yang sakit (Semangun, 2004).  Selain itu, petani umumnya jarang melakukan tindakan pemupukan yang tepat untuk tanaman jeruk mereka sehingga kurangnya perawatan tanaman ini menjadikan tanaman semakin rentan terhadap penyakit. 
Kondisi lingkungan.  Pada umumnya penyakit CVPD akan berkembang dengan cepat pada kondisi kelembaban dan curah hujan yang tinggi.

Tindakan Pengendalian yang dapat Dilakukan

1.  Tindakan Karantina

          Tindakan karantina merupakan tindakan preventif yang sangat efektif untuk mencegah penyebaran penyakit CVPD ini. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 38/KPTS/HK.060/I/2006, penyakit CVPD dikategorikan sebagai Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) Kategori A2 yang memiliki daerah sebar meliputi Papua, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Sumatera  Menurut laporan kegiatan pemantauan yang dilakukan Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang Tahun 2010, menyebutkan bahwa penyakit CVPD ditemukan di sentra pertanaman jeruk di Kabupaten Lahat (Laporan Hasil Pemantauan OPT/OPTK Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, 2010).  Sebelumnya, pada tahun 2008 penyakit CVPD diketahui telah menyebar pada beberapa daerah sentra pertanaman jeruk di Sumatera Selatan seperti Ogan Ilir, OKU Selatan, Kota Palembang, Lahat, Musi Banyuasin, OKI, Banyuasin dan Prabumulih (Kornida & Pejabat POPT, 2008).  Dengan adanya pengurangan daerah sebar ini, tentunya jelas bahwa tindakan karantina telah berhasil mencegah penyebaran penyakit CVPD.  Namun, permasalahan yang sering dihadapi adalah arus pengiriman komoditas jeruk di luar wilayah pemasukan resmi yang ditetapkan pemerintah sehingga sering menyebabkan tersebarnya bibit penyakit tanpa diketahui pihak Karantina Pertanian sehingga tidak jarang terjadi insidensi penyakit CVPD di lapangan.  Oleh karena itu, diperlukan tindakan komprehensif lainnya untuk mengantisipasi meluasnya CVPD.

2.  Pengendalian Serangga Vektor D. citri
Penyakit CVPD ditularkan oleh serangga vektor Diaphorina citri. Menurut Cholil Mahfud (1985), hubungan antara vektor D.citri dengan penyakit CVPD adalah sebagai berikut.
  1. Vektor D.citri baru dapat menularkan  CVPD setelah mengisap tanaman sakit selama 48 jam. Berdasarkan tunas sakit, hasil penularan makin tinggi apabila vektor telah mengisap tanaman sakit selama 72 jam
  2. Penularan terjadi setelah 360 jam vektor selesai menghisap tanaman sehat. Sampai 168 jam setelah menghisap tanaman sehat, vektor yang viruliferous belum menularkan CVPD. Makin banyak populasi D. citri (sampai 10 ekor) semakin tinggi penularan
  3. Vektor yang mengandung CVPD rata- rata berumur 33 hari dan umur ini lebih pendek dari vektor yang tidak mengandung CVPD.
Berdasarkan uraian di atas, upaya mengendalikan serangga vektor D. citri mutlak dilakukan guna memutus penyebaran penyakit CVPD dari satu tanaman ke tanaman lainnya.  Untuk keberhasilan tindakan ini, diperlukan pemantauan populasi hama agar tindakan yang kita lakukan sesuai dengan kaidah pengelolaan hama terpadu.  Tindakan pengendalian dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti menggunakan perangkap serangga berwarna kuning berperakat, pemanfaatan parasitoid maupun pengendalian dengan menggunakan insektisida.
Menurut Triwiratno et al. (2001), predator Coccinellidae stadia larva instar I-IV mampu memangsa nimfa kutu loncat (D. citri) sebanyak 23 ekor selama 24 jam.  Menurutnya, populasi D. citri di rumah kasa setelah pelepasan predator Coccinellidae pada jenis jeruk Keprok, Manis, Besar dan Hybrid adalah 0 ekor.  Penggunaan insektisida sistemik masih menjadi pilihan untuk menekan serangan D. citri pada tanaman jeruk.  Beberapa pestisida yang bisa digunakan diantaranya: Curacron 500EC, Matador 25EC, Mavrik 50EC, Perfekthion 400EC, Supracide 40EC (Komisi Pestisida, 1993).

3.  Penggunaan Varietas Tahan

Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk menekan tingkat serangan penyakit CVPD.  Perbedaan genetik masing-masing varietas merupakan salah satu penyebab perbedaan ketahanan terhadap suatu patogen.  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan varietas tahan mampu meminimalisir kerusakan akibat penyakit CVPD.  Berikut ini beberapa varietas jeruk dengan berbagai kriteria ketahanannya.
Tabel 1.  Kriteria ketahanan beberapa varietas jeruk terinfeksi CVPD isolat Lumajang setelah inokulasi.
Varietas
Intensitas Serangan
6 bulan setelah inokuasi (%)
Tinggi Tanaman (cm)
Kriteria Ketahanan
Konde Purworejo
4,49 a
28,13 a
Agak toleran
Manis Punten
13,30 b
17,83 a
Peka
Jeruk Purut
14,80 b
32,66 a
Peka
Jeruk Nambangan
3,53 a
44,33 a
Toleran
Japansche citroen
5,95 a
27,60 a
Peka
Rough Lemon
11,10 b
37,60 a
Peka
Carizo citrange
5,17 a
19,00 a
Peka
Citrus orlando
21,37 c
30,30 a
Sangat peka
Citrus zanzibar
5,68 a
30,60 a
Peka
Marsh seedless
18,47 c
14,25 a
Peka

Uji Duncan Taraf 5%
Uji t 0,05

Sumber: Dwiastuti, ME (2000)

Berdasarkan Tabel 1, beberapa varietas jeruk diketahui memiliki ketahanan berbeda terhadap serangan penyakit CVPD.  Varietas jeruk yang toleran terhadap penyakit CVPD di antaranya adalah Konde Purworejo, Jeruk Nambangan.  Untuk menunjang keberhasilan penerapan di lapangan, maka diperlukan ketersediaan bibit jeruk tahan penyakit dalam jumlah yang memadai, sehingga siklus penyakit dapat dicegah perkembangannya.

4.   Perlakuan Perendaman Bibit Jeruk dengan Senyawa Kimiawi

          Untuk memperoleh bibit jeruk yang bebas penyakit dapat dilaksanakan melalui teknik penyambungan tunas pucuk secara in vitro.  Penggunaan senyawa kimia untuk menekan serangan CVPD dapat dilakukan terutama pada fase pembibitan.  Beberapa penelitian membuktikan bahwa penggunaan senyawa kimiawi dapat menginduksi ketahanan pada tanaman dari serangan patogen.  Di China pengadaan bibit jeruk bebas penyakit melalui penyambungan masih dianggap kurang sehingga tunas pucuk tersebut perlakuannya masih ditambah dengan kombinasi pencelupan matat tempel jerukd alam air panas atau dalam larutan antibiotik tetrasiklin 1.000-2.000 ppm selama 2 jam, dalam kurun waktu 5 tahun tanaman masih terbebas dari penyakit greening huanglongbig (Chung & Zhou, 1987 dalam Roesmiyanto et al., 2000).
          Menurut Roesmiyanto et al. (2000), tanaman yang direndam dalam larutan penisilin 1000 ppm, pada umur 15 minggu setelah perlakuan tidak menunjukkan adanya gejala CVPD serta memberikan penampilan yang lebih baik.  Hal ini terjadi karena penisilin adalah antibiotik spektrum luas yang dapat mematikan banyak jenis bakteri dalam tanaman jeruk.  Beberapa penelitian membuktikan bahwa, senyawa kimia tertentu mampu menginduksi ketahanan terhadap penyakit tanaman.

5.  Teknologi Infus Batang pada Tanaman Dewasa

          Teknologi infus batang telah banyak diterapkan ketika terjadi endemi penyakit CVPD di Sumatera Selatan.  Menurut Pracaya (1997),  tanaman jeruk yang sakit ringan dapat diobati dengan senyawa oxytetracycline-HCl (Terramycin)  melalui cara penginfusan.  Sebanyak 5 g bahan ini dilarutkan dalam 10 l air untuk 10-20 pohon (0,5-1 l per mst).  Penginfusan sebaiknya dilakukan pada sore sampai malam selama lebih kurang 12 jam untuk mencegah terjadinya kerusakan larutan dan dilakukan selama 2 malam berturut-turut.  Penginfusan ini harus dibarengi dengan pemupukan tanaman secara teratur dan setelah diadakan penginfusan sebaiknya dilakukan penyemprotan insektisida guna menekan serangan hama yang bisa memicu munculnya penyakit baru.

6.  Eradikasi Selektif Tanaman yang Terserang

          Eradikasi selektif pada tanaman terserang merupakan salah satu tindakan yang dapat menekan serangan dan penyebaran penyakit CVPD. Tindakan eradikasi selektif ini jarang dilakukan petani karena mereka menganggap secara ekonomi tindakan ini merugikan.  Sepintas anggapan ini benar, namun jika kita telaah dari segi ekologi penyakit maka tindakan ini dapat memutus siklus penyebaran dari suatu patogen.  Di Afrika Selatan, untuk menekan serangan CVPD dilakukan eradikasi selektif pada tanaman atau bagian tanaman yang terserang dengan didasarkan pada intensitas serangan dan umur tanaman (Tabel 2).  Apabila tindakan ini dilakukan, sudah tentu penyebaran penyakit CVPD ke tanaman sehat akan semakin berkurang.



Tabel 2.  Tindakan eradikasi selektif tanaman jeruk yang terinfeksi CVPD
Umur Tanaman (tahun)
Jumlah Kanopi yang Bergejala
Perlakuan
< 5
Gejala sedikit
Eradikasi tanaman terinfeksi
6-10
< 75%
Membuang cabang yang terinfeksi
6-10
> 75%
Eradikasi tanaman terinfeksi
> 10
< 40%
Membuang cabang yang terinfeksi
> 10
> 40%
Eradikasi tanaman terinfeksi
Sumber: Davis et al., 2005.

7.  Penggunaan Tanaman Tapak Dara
          Tapak dara (Catharanthus roseus) telah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk penumpas kanker. Tanaman ini diketahui dapat digunakan untuk memerangi bakteri penyebab penyakit CVPD. Manfaat lain tapak dara itu ditemukan oleh tim ilmuwan dari Agricultural Research Service (ARS), University of Ronda Indian River Research and Education Center-di Fort Pierce, Florida, Amerika Serikat.  Tapak dara terbukti sebagai alat pemindai yang efektif untuk mengendalikan penyakit Huang-longbing (HLB), kata Yongfing Duan, peneliti di Laboratorium Riset Hortikultura ARS.  Mereka menemukan bahwa tapak dara terbukti dapat menjadi pengganti jeruk karena mudah terinfeksi bakteri-um HLB dan merespons senyawa antibiotik dengan baik yang diuji untuk mengurangi infeksi. Mereka juga merendam potongan tapak dara yang terinfeksi dalam beragam senyawa kimia dan menemukan bahwa dua di antaranya berpotensi sebagai obat pengendali HLB. Namun temuan ini masih terbatas untuk pengujian di dalam rumah kaca dengan senyawa kimia penicillin G sodium dan biocide 2,2-dibromo-3-nitri-lopropionamide (DBNPA) (Anonim, 2010).


PENUTUP

Penyakit CVPD merupakan penyakit penting yang menyerang tanaman jeruk sehingga diperlukan tindakan pencegahan dan pengendalian terhadap penyakit tersebut.  Berbagai strategi pengendalian dapat dilakukan di antaranya melalui 1) tindakan karantina, 2) pengendian serangga vektor D. citri, 3) penggunaan varietas tahan, 4) perlakuan perendaman bibit jeruk dengan senyawa kimiawi, 5) teknologi infus batang pada tanaman dewasa, 6) eradikasi selektif tanaman yang terserang serta 7) penggunaan tanaman tapak dara. Pengendalian ini akan dapat berhasil bila semua pihak yang terlibat bisa berperan aktif dalam upaya pelaksanaannya.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  2010.  Tapak Dara Membantu Pengendalian Hama Jeruk (http://www.bataviase.co.id). Diakses 26 Januari 2011.
Davis, R., Tony Gunua, Glenn Bellisa and Judy Grimshaw.  2005.  Huanglongbing disease of citrus trees.  Pest Advisory Leaflet No. 45.  June 2005.
Dwiastuti, ME.  2000.  Evaluasi ketahanan varietas jeruk terhadap penyakit CVPD isolat Lumajang.  J. Hort. 10(2): 121-125.
Komisi Pestisida.  1993.  Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan.  Departemen Pertanian.
Kornida, F dan Pejabat POPT.  2008.  Hasil pemantauan daerah sebar organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) di propinsi Sumatera Selatan Tahun 2008.  Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Entomologi Indonesia Cabang Palembang dan Perhimpunan Fitopatologi Indonesia Komda Sumsel.  Palembang, 18 Oktober 2008.
Nurhadi. 1993. Aspek epidemi penyakit CVPD: prediksi kecepatan perkembangan penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap kecepatan perkembangan. Penelitian Hotikultura 5(2):71-72.
Pracaya.  1997.  Hama dan Penyakit Tanaman.  Penebar Swadaya.  Jakarta.
Roesmiyanto, Lilik Setyobudi, Sri Handayani.  2000.  Pengkajian penisilin untuk elemen pendukung ketahanan bibit jeruk terhadap CVPD.  J. Hort. 10(2): 121-125.
Semangun, H.  2004.  Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia.  Gadjah Mada University Press.  Yogyakarta.
Triwiratno, A., A. Supriyant, H. Mulyanto.  2000.  Pengendalian hayati hama utama jeruk dalam perbaikan pengelolaan pohon induk jeruk bebas penyakit di pot dalam rumah kasa.  Posiding Seminar dan Ekspose Teknologi BPTP Jawa Timur.  Malang, 11-12 September 2001.
Wahyuningsih, E.  2009.  CVPD pada jeruk (Ctrus spp.) dan upaya pengendaliannya.  Vis Vitalis 02(2): 65-73.
Wijaya, IN.  2007.  Penularan Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) oleh Diaphorina citri Kuwayama (Homoptera: Psyllidae) pada Tanaman Jeruk Siam.  Agritrop 26 (4): 140-146.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar